Maggot BSF Jadi Andalan Baru Warga Jatiraga,
Tekan Biaya Pakan Ikan dan Unggas hingga Puluhan Persen
Jatitujuh, Majalengka
Maggot BSF Jadi Andalan Baru Warga Jatiraga,
Tekan Biaya Pakan Ikan dan Unggas hingga Puluhan Persen
Jatitujuh, Majalengka
MAJALENGKA — Harga pakan yang terus merangkak naik menjadi keluhan umum peternak ikan dan unggas skala rumah tangga di Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University Desa Jatiraga mengenalkan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai pakan alternatif yang bisa diproduksi sendiri oleh warga dengan biaya jauh lebih murah.
Berbeda dengan pakan pabrikan yang bergantung pada bahan baku impor seperti tepung ikan dan bungkil kedelai, maggot BSF dapat dibudidayakan hanya dengan modal sampah organik yang selama ini terbuang percuma dari dapur warga. Hal ini menjadikan maggot sebagai solusi pakan yang tidak hanya murah, tetapi juga berkelanjutan.
Kandungan Protein Tinggi, Cocok untuk Ikan dan Unggas
Tim KKN-T IPB University Desa Jatiraga mengadakan Sosialisasi Pemilahan Sampah dan Budidaya BSF bagi warga Desa Jatiraga mengenai budidaya maggot yang digelar di Balai Desa Jatiraga, Senin (27/07/2026). Sosialisasi ini dihadiri narasumber dari Balai Pembibitan dan Pengembangan Ternak Unggul (BPPTU) Jatiwangi, Bapak Heru Nugraha, S.Pt., yang memaparkan bahwa maggot BSF dikenal luas di kalangan peternak sebagai sumber protein hewani yang tinggi. Kandungan proteinnya membuat maggot cocok dijadikan campuran pakan, baik dalam bentuk segar maupun setelah dikeringkan, untuk berbagai jenis ikan air tawar maupun unggas seperti ayam dan bebek.
Menurut pemaparan tersebut, pemberian maggot secara rutin dapat mendukung pertumbuhan ternak tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pakan pabrikan, sehingga peternak memiliki opsi untuk mencampur atau mengganti sebagian kebutuhan pakan hariannya.
Dari Kandang Mandiri ke Pakan Siap Panen
Tim mahasiswa KKN-T IPB University Desa Jatiraga melakukan uji coba pembangunan kandang budidaya maggot secara mandiri menggunakan bahan sederhana seperti rangka kayu dan jaring, dilengkapi rak bertingkat sebagai media pembesaran. Bibit awal berupa prepupa dan baby maggot diperoleh dari kunjungan sekaligus belajar mengenai budidaya maggot ke BPPTU Jatiwangi pada Senin (20/07), sebelum akhirnya dikembangkan secara mandiri menggunakan sampah organik di lingkungan sekitar sebagai pakan.
Setelah melewati masa pembesaran, maggot dapat dipanen dan langsung diberikan sebagai pakan segar, atau disimpan lebih lama setelah melalui proses pengeringan sederhana. Alur produksi yang sederhana ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena warga tidak memerlukan peralatan mahal maupun keahlian khusus untuk mulai memproduksi pakan alternatif sendiri.
Kandang budi daya maggot yang menjadi unit produksi pakan alternatif mandiri di Desa Jatiraga
Peluang Efisiensi bagi Peternak Skala Rumah Tangga
Bagi warga Jatiraga yang memelihara ikan atau unggas dalam skala kecil, ketergantungan penuh pada pakan pabrikan sering kali membuat biaya produksi membengkak, terutama saat harga pakan naik. Dengan tersedianya maggot sebagai sumber pakan tambahan yang diproduksi sendiri dari sampah rumah tangga, kebutuhan pakan pabrikan berpotensi ditekan secara bertahap, sehingga peternak dapat mengalokasikan biaya yang tersisa untuk kebutuhan lain.
Setelah Tim KKN-T IPB University Desa Jatiraga melakukan uji coba budidaya maggot selama satu minggu, hasil budidaya tersebut diserahkan kepada Lebe Desa Jatiraga, Bapak Ato Wiharto, untuk dilanjutkan dan dikembangkan secara mandiri. Apabila dikelola secara konsisten, hasil panen maggot berpotensi tidak hanya mencukupi kebutuhan pakan warga secara mandiri, tetapi juga membuka peluang usaha melalui penjualan kepada peternak di sekitar desa.